Alcatel OneTouch Flash

Entah apa makna istilah “Flash” yang mengikuti seri Alcatel OneTouch berkode produk 6042D ini. Jika yang dimaksud adalah lantaran menggunakan prosesor octa core, rasanya perlu pembuktian. Sebab, tak semua prosesor dengan delapan inti sanggup bekerja lebih cepat. Apalagi jika hanya menggunakan spek berkecepatan komputasi 1,4 GHz. Bicara soal kompetisi, harus diakui tak gampang bersaing dengan namanama lokal dan produk Tiongkok yang mencuat.

Baca juga : WA WEB

Kendatipun harga yang dipatok sesungguhnya cukup terjangkau di kelasnya. Bahkan toko on-line Lazada sampai membanting harga dengan diskon sampai 700 ribuan, jadi Rp 1,9 jutaan. Di Thailand, seri ini dapat aplus lumayan. Dirilis pada September lalu, sekarang sudah malang-melintang di bursa ponsel lokal. Tetapi itu bukan jaminan sukses. Sebelumnya ketika merilis seri-seri OneTouch Pop, Alcatel tetap tak berkibar.

Organisasi Menu Kelola menu OneTouch Flash cukup unik.

Tersedia lima homescreen yang berbeda dengan produk lain. Uniknya terdapat homescreen khusus foto yang dapat dipilih untuk keperluan background dan pilihan layout. Kemudian di homescreen terakhir dibuat model folder, masing-masing adalah kelompok Productivity, Assistance, Media dan Tools. Kalau Anda tak suka ribet, homescreen ini sangat sesuai. Sayang Anda tak bisa menambahkan folder jika membutuhkan ekspansi file. Mengelola menu atau fi tur juga disediakan di sini. Anda cukup memindahkan setiap fitur atau menu dengan men-tap kemudian mengarahkan ke folder yang dituju.

Kinerja

Hasil uji kami dengan tiga aplikasi tes menunjukkan bawah performa OneTouch Flash tak hebat-hebat amat. Dibandingkan dengan Advan Barca Tab 7 yang samasama Octa Core terpaut di bawah begitu jauh. Di sini menjelaskan pula betapa faktor kecepatan komputasi sangat berpengaruh. Konfi gurasi inti hanyalah menjadi sarana agar pembagian sistem, termasuk pemakaian energi dari pasokan baterai menjadi lebih baik. Beberapa yang terasa kurang nyaman adalah pada fitur kamera yang sensornya tak kilat responnya. Proses swipe juga tak terlalu mulus. Namun harus diakui, daya tahan baterai dengan kapasitas 3.200 mAH membantu mengurangi kesan kurang lincah tadi. Dengan Wi-Fi yang terus aktif, selama 24 jam, tak mengakibatkan indikator baterai berada pada garis terakhir. Sementara Uji Vellamo untuk menentukan kinerja chipset masih di bawah Motorola Moto G. Nilai untuk uji tenaga justru berbanding terbalik dengan Moto G. Namun masih berada di bawah Nexus 4 buatan LG Mobile yang juga telah di-upgrade ke KitKat.

Body dan Desain

Sepintas pandang tak memiliki daya tarik dan ciri khas. Tak beda dengan Vivo Xplay 3S. Dan, Alcatel hanya memberi identitas produk di punggung. Seperti tak percaya diri. Lihatlah Vivo yang memberi titel produk di penampang depan. Padahal brand ini –meski nyaris dilupakan- pernah mengguncang dunia, pada sekitar 10 tahun silam dan merupakan kebanggan Perancis. Alcatel Flash datang dengan versi dua SIM GSM. Slot kartu dalam bentuk hotswipe diletakkan di samping. Masing-masing slot kartu SIM ditempatkan berseberangan. Begitu halnya dengan slot kartu memori (microSD). Pintu slot begitu tipis (nyaris bak produk iPhone) sehingga dibutuhkan semacam pin (tersedia dalam paket) untuk membuka. Alcatel mencoba mengemas dengan desain unibody. Membuat produk lebih tipis. Namun posisi kamera utama tetap membutuhkan space sendiri. Akibatnya di punggung harus rela terlihat menonjol. Seluruh “kulit” terbuat dari plastik. Layarnya tak dilapis. Namun dalam paket pembelian Alcatel menyediakan screen protector. Konsumen tinggal pasang sendiri. Overall, tidak ada yang istimewa pada desain seri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *