Berganti-Ganti Pengasuh

Ibu mayke yang baik, karena saya masih kuliah, begitu juga suami yang bekerja setiap hari, maka yang mengurus si kecil (19 bulan) adalah ibu dan mertua. Bergantian saja karena kebetulan kami semua satu kompleks. Bu, apakah dengan berganti-ganti pengasuh akan memengaruhi sifat dan sikap anak kelak?

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Mohon pencerahan ibu mayke. Terima kasih. Tri ratna – jogyakarta Idealnya, ketika masa bayi, anak diasuh oleh pengasuh yang ajek agar ia mendapatkan penanganan secara konsisten dari orang yang sama. Dalam kasus Mbak Tri Ratna, ber arti ada 3 pengasuh utama, yaitu Anda se bagai ibunya dan kedua neneknya. Betapa pentingnya pengasuhan oleh orang yang ajek dilatarbelakangi oleh beberapa alasan berikut ini: Usia sekitar 0-12 bulan, merupakan fase yang pen ting untuk pembentukan basic trust versus mistrust.

Ada orang yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan biologis seper ti haus, lapar, menggantikan popok ketika buang air kecil, buang air besar; ada yang meninabobokkan ketika ia mengantuk, memeluk dan menenangkan ketika ia sakit, dll. Pada usia sekitar 2-3 tahun anak memasuki tahap otonomi versus rasa malu dan ragu. Apabila basic trust terbentuk dengan baik, berbarengan dengan berkembangnya kemampuan anak untuk berjalan, berbicara, buang air di toilet; maka ketergantungan anak pada pengasuhnya secara fi sik dan psikologis makin berkurang.

Hal ini membuka peluang bagi perkembangan kepribadian anak, menjadi anak yang punya harga diri dan tidak mudah cemas. Sesuai dengan pertanyaan Anda, bagaimana bila pengasuhan dilakukan oleh kedua nenek? Hasilnya akan sangat bergantung bagaimana mereka memperlakukan si anak sesuai fase yang saya jelaskan di atas. Selain itu, diperlukan kekompakan antara Anda, dan kedua nenek dalam menerapkan aturan dalam kehidupan anak sehari-hari.

Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, kapan dia makan, tidur, mandi, bermain. Perlakuan yang ajek dari para pengasuh dibutuhkan agar anak tidak menjadi bingung untuk mengikuti aturan mana yang benar. Apabila aturannya terlampau bertentangan, sulit untuk mengembangkan kemampuan regu lasi diri pada anak dan anak bertingkah semaunya saja. Sekian dulu penjelasan dari saya.

Sumber : https://eduvita.org/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *