Boneka Butut Masih Jadi Kesayangan

Ke mana-mana boneka bututnya selalu ikut. Tidur pun tak lelap tanpa kehadirannya. Pada anak lain, benda kesayangan ini bisa saja berupa selimut atau guling yang sama-sama butut. Mungkin Mama Papa penasaran, bagaimana memisahkan si kecil dari benda kesayangannya yang sudah tak layak pakai. Sebenarnya memiliki kelekatan dengan benda tertentu sah-sah saja.

“ rekomendasi tempat kursus bahasa Jerman di Jakarta terbaik “ ~ sat-jakarta.com ~

Orang dewasa pun kerap membutuhkan sesuatu untuk dipegang dalam kondisi tertentu, seperti menggenggam tisu saat menunggu giliran presentasi, atau remaja perempuan yang tidur ditemani boneka beruang di sudut ranjang. Jika si kecil masih dapat diberi pengertian, misalnya jangan membawa guling kala bertamu, atau selimut harus dicuci setiap minggu, kelekatan ini bukanlah masalah.

Menurut psikolog Riselligia Caninsti, masalah baru timbul jika kelekatan ini kadarnya berlebihan, sampai-sampai si batita tak mau berpisah dari benda kesayangannya itu barang semenit pun. Mau berkegiatan apa pun, benda tersebut harus selalu ada. Kita jadi tak sempat membersihkan benda itu secara rutin. Padahal, yang namanya benda dibawa ke mana-mana, pastilah kotor. Jika kita meminta benda kesayangannya harus dicuci, si kecil menampilkan respons negatif. Bisa marah, menangis, menjerit-jerit, atau menunjukkan kegelisahan yangdemikian hebat sehingga tidak dapat beraktivitas seperti biasanya. Kalau sudah begini, kita perlu waspada.

Butuhkan Rasa Aman

Secara psikologis, salah satu kebutuhan mendasar bagi batita adalah kasih sayang dan rasa aman, yang umumnya diperoleh dari orangorang terdekatnya. Dalam kasus guling atau boneka butut, para ahli sepakat kelekatan yang berlebihan ini merupakan indikasi kurangnya rasa aman dan nyaman pada anak.

“Di saat anak tidak mendapatkan rasa aman dan nyaman dari orang-orang di lingkungannya, ia akan berupaya mencari pengganti pada objek lain, salah satunya adalah guling atau boneka,” papar psikolog yang akrab dipanggil Gia ini. Kenyamanan yang dirasakan anak saat memeluk guling atau boneka cenderung ingin dirasakan kembali, sehingga perilaku ini terus berulang dan menjadi kebiasaan. Terkadang kita baru menyadari kebiasaan ini saat melihat guling atau boneka tersebut sudah dalam kondisi butut karena sering dibawa si batita ke mana pun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *