Watiek Ideo Penulis Buku Best Seller

Sejak kelas 2 sekolah dasar (SD), ia suka menulis. “Kalau ada pelajaran mengarang saya merasa bebas, bisa menulis berlembar-lembar kertas, senang banget,” kenang perempuan bernama asli, Solikhatul Fatonah Kurniawati (33) ini. Waktu itu ia menulis puisi dan cerita pendek. Saat remaja, ia mulai gemar menulis buku harian.

“ program beasiswa kuliah di Jerman S1 S2 gratis tanpa biaya “ upstory.org

“Buku harian saya sampai bertumpuk-tumpuk, isinya campur-campur, umumnya curahan hati yang galau,” jelas Sarjana Psikologi lulusan Universitas Airlangga Surabaya yang lebih dikenal dengan nama penanya ini, Watiek Ideo. Nah, saat kuliah di Fakultas Psikologi itu, Watiek malah berhenti menulis dan baru kembali menulis lima tahun belakangan. “Awalnya dimulai ketika saya mencari seorang desainer untuk clothing line yang sedang saya rintis,” kenangnya.

Ia berkenalan dengan seorang desainer yang ternyata ilustrator buku anak. Saat ilustrator itu memperlihatkan karya-karyanya, Watiek terpukau sehingga semangat menulisnya pun kembali. “Sejak saat itu saya langsung menulis buku,” kata Watiek. Tidak tanggung-tanggung, buku pertamanya langsung ia kirim ke penerbit besar, berkisah tentang petualangan Lily dan Pino, persahabatan seorang gadis kecil dengan seekor panda.

Tiga bulan kemudian, Watiek dikabarkan, naskahnya akan diterbitkan. “Ini adalah momen penting dalam hidup saya,” cerita Watiek dengan rupa gembira. Sejak saat itu, ia seperti kecanduan menulis dan memutuskan untuk profesional menulis, khususnya buku anak, sambil mengurus clothing line-nya.

Penghargaan dari Jokowi

Pagi hingga siang, sekitar pukul 10–12, adalah waktu efektif baginya menulis. Selebihnya digunakan untuk mengerjakan hal-hal lain, seperti mengurus rumah, merawat anak-anak, membuat suvenir, mengurus clothing line, dan “bermain” sosmed. Watiek mengaku, dirinya tak ada target untuk menghasilkan buku, semuanya mengalir saja. Hanya saja, ia membuat deadline khusus jika mengerjakan sebuah naskah, harus selesai dalam waktu dua minggu, semata agar disiplin.

”Soalnya, kontrol, kan, ada pada diri sendiri, jadi harus pintar mengatur waktu,” tandas Watiek. Bagaimana jika sehari saja ia tidak menulis? “Wah, rasanya seperti ada yang hilang, ada yang dirindu,” ujar Watiek yang dalam lima tahun saja sudah menghasilkan lebih dari 55 buku anak-anak. Dari sekian banyak buku, yang paling banyak diminati buku Aku Anak Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri, berisi 10 cerita serta tip mencegah kekerasan dan kejahatan seksual pada anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *