Konservasi Cetak Biru Gajah Sumatera Bag4

Studi WWF Indonesia dan Eijkman Institute tersebut disampaikan dalam simposium yang digelar di gedung Eijkman Institute, Jakarta Pusat, pekan lalu, untuk memperingati Hari Gajah Sedunia, yang jatuh pada 15 Agustus. Gajah di pusat konservasi memiliki keanekaragaman genetika cukup tinggi. Sunarto pun berharap langkah itu dapat memperkaya genetika gajah liar Sumatera di Way Kambas.

Cara ini dikenal dengan istilah konservasi penanda deoxyribonucleic acid (DNA) atau cetak biru makhluk hidup. Konservasi penanda DNA tergolong teknik baru dalam upaya pelestarian satwa liar di Indonesia. Herawati Sudoyo, Deputi Direktur Eijkman Institute Bidang Penelitian Fundamental—juga anggota penelitian—mengatakan ada lima hal yang dapat diungkap dengan pendekatan penanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *