Bayi Lahir Prematur, Mama Berisiko Sakit Jantung

Mama yang punya kebiasaan merokok dan melahirkan bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi untuk mengidap penyakit jantung, demikian menurut studi yang dimuat di European Journal of Preventive Cardiology. Risiko ini bahkan 29% lebih tinggi dibandingkan mama yang hanya memiliki kebiasaan merokok saja atau hanya pernah melahirkan bayi prematur.

Baca juga : ausbildung jerman

“Risiko penyakit jantung ini bisa berkaitan dengan stres akibat harus merawat bayi yang prematur. Ini juga dapat memicu perilaku tidak sehat lainnya seperti merokok, yang nantinya juga meningkatkan risiko terjadinya kelahiran prematur pada kehamilan selanjutnya,” kata Dr. Anh Ngo, peneliti dari University of Sydney, Australia. Sementara, merokok itu sendiri dapat menyebabkan gangguan metabolisme, yang nantinya akan menimbulkan gangguan jantung.

Belajar Bahasa Kedua Dengan Mudah

Tak semua bayi bisa dengan cepat memahami dua bahasa. Menurut studi yang dimuat di jurnal Developmental Neuropsychology, kemampuan ini dipengaruhi oleh tipe perilaku sosial tertentu. Menurut peneliti, kemampuan bayi mengarahkan perhatian kepada orang yang mengajaknya berbicara berpengaruh terhadap kemampuan belajar bahasanya. “Keterampilan sosial ini merupakan salah satu jenis keterampilan awal yang dipelajari bayi.

Ini juga menandakan mereka bukan sekadar pendengar bahasa yang pasif,” kata salah satu peneliti, Rechele Brooks, asisten profesor dari Institute for Learning and Brain Sciences, University of Washington. Kemampuan ini juga bisa jadi indikasi untuk para orangtua yang ingin mulai mengajarkan bahasa kedua kepada anak-anaknya sejak dini. “Ketika bayi sudah dapat mengarahkan perhatian, biasanya mereka akan melihat ke arah orang yang mengajaknya berbicara, lalu pandangannya berpindah lagi ketika orang tersebut menunjuk salah satu benda sambil berbicara. Dalam proses inilah bayi sebenarnya sedang belajar,” lanjut Brooks.

Ayo, Bermain Dengan Si Batita

Meluangkan waktu tanpa interupsi untuk bermain dengan si batita dapat membantunya belajar membangun hubungan emosional dengan orang lain. Hindari permainan yang berstruktur dan biarkan si batita yang menjadi pemimpinnya. Melihat Mama mencurahkan waktu untuknya tanpa memegang ponsel atau memasak, akan membuat si batita merasa dirinya disayangi dan istimewa di mata mamanya. Ketika Mama harus kembali ke tugas rumah tangga, cobalah melibatkannya agar ia tetap merasa dekat dengan Mama. Berikan si batita “tugas” yang bisa ia lakukan dan berbincanglah sambil bekerja bersama.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *