Category Archives: Parenting

Saatnya Merancang Jenis Kelamin Bayi Bag3

Selama waktu berjalan menuju tiga bulan, gunakan pengaman atau kondom setiap kali berhubungan intim. Setelah tiga bulan, tinggalkan saja pengamannya. Jika dilakukan rutin selama tiga bulan tersebut, kemungkinan untuk mendapatkan bayi dengan jenis kelamin yang Mama Papa inginkan akan lebih besar persentasenya.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Namun, kembali lagi, ini hanya salah satu upaya, bisa berhasil, tetapi bisa saja gagal. Bagaimanapun, hak prerogatifnya tetap berada pada Sang Pencipta. Bila ternyata anak yang lahir memiliki jenis kelamin yang tak sesuai dengan keinginan, tak perlu kecil hati. Yakinlah, apa pun jenis kelamin si anak, baik lakilaki maupun perempuan, itulah yang terbaik yang telah Tuhan berikan kepada Mama Papa. Dengan begitu, kita tetap ikhlas dan bahagia menerimanya. Bila ingin punya anak laki-laki, Mama dianjurkan mengonsumsi makanan yang kaya akan sodium dan potasium. Sebaliknya, bila ingin anak perempuan, konsumsilah makanan tinggi kalsium dan magnesium, tetapi rendah garam.

Tidak Sulit Temukan Ukuran Besar ”Pengalaman saya mencari pakaian dalam saat hamil memang agak sulit, karena ukuran bra yang semakin besar. Tapi kondisi ini masih bisa diatasi, karena sekarang sudah tersedia berbagai macam produk buat bumil. Bangganya menjadi ibu hamil dan mendapatkan 2 putra dan putri yang alhamdulilah sehat-sehat.” Eneng Eti Rohaeti.

Pinjam Punya Suami ”Perut yang semakin besar memang sedikit menyulitkan dalam memilih pakaian dalam. Yang sebelumnya ada, sudah tidak muat lagi. Tapi sekarang aku enggak khawatir, karena sudah ada celana dalam khusus ibu hamil yang banyak dijual di pasaran. Untuk bra, aku pilih ukuran yang lebih besar daripada yang sebelumnya kupakai.” Risanty Raini (35 Week).

Tidak Suka Pakaian Dalam Ketat “Masa kehamilan merupakan masa perubahan yang terjadi pada tubuh ibu. Rasa nyaman tentu menjadi hal utama yang dipikirkan saat membeli baju dan pakaian dalam. Sebagai muslimah, saya lebih memilih mengenakan gamis selama hamil. Terlebih lagi gamis yang berbahan jersey, memiliki tekstur melar dan ringan saat dikenakan. Pakaian dalam yang pas dan tidak ngetat juga penting diperhatikan ketika membeli.” Dawimah (33 Minggu).

Sumber : https://pascal-edu.com/

Tip dan Trik Usir Stres Bag2

Sampaikan apa yang membuat Mama tak bisa lagi melakukan tanggung jawab tersebut dan diskusikan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. 5. Bersyukur atas kehamilan Mama. Tidak semua perempuan bisa hamil dan memiliki anak. Berbahagialah karena dapat mengalaminya. Hanya Mama yang bahagia yang bisa membahagiakan anaknya, oleh karena itu Madilah Mama yang berbahagia.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Agar Kakak Tak Melulu Minta Gendong

Kecuali dalam kondisi darurat, menggendong batita atau mengangkat beban berat sebenarnya tak dianjurkan bagi para mamil. Berikut yang bisa Mama lakukan untuk membuat si kakak yang masih batita agar tak melulu minta gendong. Alihkan perhatiannya dengan mengajaknya duduk sebentar sambil bercerita tentang sesuatu yang bisa menarik perhatiannya atau membacakan buku cerita di pangkuan Mama.

Ini akan menjadi awal yang baik untuk mengajarkannya konsep “duduk bila lelah” dan bukannya digendong. Bila Mama mengajak batita pergi suatu tempat dalam waktu lama, seperti pusat belanja atau wahana bermain, sebaiknya membawa kereta dorong, setidaknya ini bisa mengganti “gendongan” saat batita merasa lelah atau mengantuk. Hindari penolakan dengan sikap atau kata-kata negatiI. Misalnya, menolak gendong dengan cara mengomeli anak, apalagi dengan kekerasan fisik, seperti memukul.

Selain berdampak buruk bagi perkembangan mental anak, anak jadi terbiasa dengan sikap negatiI dan akhirnya kebal. Selain itu, hindari pula kalimat yang merendahkan anak, seperti, “Kok, masih minta gendong? Kalah dong sama adik bayi, payah, ah!” Bila terlalu sering diucapkan, ditakutkan ia akan tumbuh menjadi anak yang minder atau kurang percaya diri. Beri pengertian secara bertahap kalau Mama tak bisa lagi menggendong terlalu lama karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan, seperti, “Kalau sekarang Mama gendong Kakak, Mama bisa sakit.

Jadi, Kakak digendong Papa dulu, ya.” Hindari menjadikan “adik” dalam kandungan sebagai alasan, seperti, “Mama sudah enggak bisa gendong Kakak lagi karena ada adik bayi di perut.” Pasalnya, itu bisa saja menimbulkan kecemburuan yang akhirnya membuat si kakak merasa tersaingi dengan kehadiran sang adik. Hindari bepergian hanya berdua dengan si batita agar ada orang lain yang bisa bantu menggendong.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Begitu Lahir Perlu Asupan Vitamin K Bag4

Di beberapa negara Asia angka kesakitan bayi karena PDVK ber kisar antara 1 : 1.200 sampai 1 : 1.400 Kelahiran Hidup. Angka tersebut dapat turun menjadi 1 : 10.000 de ngan pemberian vitamin K pada bayi baru lahir.

Bila Terlambat Diberi Vitamin K

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Pada bayi yang terlambat mendapat vitamin K dan mengalami perdarahan akibat kekurangan vitamin K, dokter akan memberikan pengobatan berupa suntik an vitamin K dan transfusi darah. Pemberian vitamin K tidak perlu dilakukan ulangan, karena semakin bertambah umur bayi, semakin baik kemampuan tu buhnya untuk menghasilkan vitamin K dan semakin bervariasi asupan makanan yang didapatkan.

“Bila lupa memberikan suntikan vitamin K, begitu ingat langsung saja membawa ke dokter untuk men dapatkan suntikan demi menjaga kondisi bayi. Meski usia bayi sudah lebih dari dua ming gu dan mama baru ingat saat itu, suntikan vitamin K tetap harus diberi kan. Lebih baik diberikan daripada tidak,” ujar Desiana.

Tentang Vitamin K

Vitamin K merupakan vitamin larut dalam lemak yang memiliki peranan penting dalam mengaktifkan zat zat yang berperan dalam pembekuan darah, di anta ranya zat yang dikenal sebagai protrombin. Vitamin K dapat diproduksi oleh bakteri normal dalam saluran cerna, akan tetapi pada bayi baru la hir kondisi saluran cerna masih dalam keadaan steril (tidak ada bakteri normal usus) sehingga vitamin K tidak dapat diproduksi.

Fungsi organ hati sebagai tempat metabolisme vitamin K juga belum dapat ber fungsi secara matang terutama pada bayi kecil. Ada tiga bentuk vitamin K yang diketahui yaitu: ? Vitamin K1 (phytomenadione), terdapat pada sa yuran hijau. ? Vitamin K2 (menaquinone), dihasilkan oleh bakteri normal usus (Bacteriodes fragilis). ? Vitamin K3 (menadione), merupakan vitamin K sintetik.

Vitamin K yang diberikan pada bayi baru lahir ada lah vitamin K1. Pemberiannya pada saat bayi baru lahir atau sampai usia 2 minggu. Sekali lagi. hal ini terkait de ngan risiko terjadinya perdarahan yang cukup tinggi pada bayi usia 1–2 minggu. Faktor risiko akan menurun menjelang usia 6 bulan, setelah bayi mulai dapat memproduksi vitamin K sendiri.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Boneka Butut Masih Jadi Kesayangan Bag2

Jika sudah sampai pada kondisi ini, tentu saja upaya untuk mengubah kebiasaan anak memerlukan proses, karena cukup sulit untuk langsung memisahkan si kecil dari kebiasaannya berinteraksi dengan benda kesayangannya tersebut. Proses memisahkan yang tidak bijak dapat berdampak besar dalam perkembangan anak.

“ Program kerja ke luar negeri gratis dengan ausbildung di Jerman “ ~ sat-jakarta ~

Diantaranya, menurut Gia, “Anak tidak mau lepas dari orangtuanya, bahkan saat sudah memasuki usia sekolah ia ingin selalu ditunggui oleh orangtua. Ia juga takut dan enggan berinteraksi dengan orang lain, bahkan tidak mau melakukan eksplorasi, karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.”

Berpisah Dengan Si Butut

Lalu harus bagaimana? Memaksa anak untuk berpisah dengan guling bututnya hanya akan memperpanjang masalah. Gia memberikan beberapa cara untuk melepaskan ketergantungan anak kepada si butut. Pertama berikan anak rasa aman dan nyaman. Caranya, bisa dengan menemani anak saat melakukan aktivitas kesehariannya.

Misal, dengan menyusui, menyuapi anak, mengganti popok, memandikan, bermain, menemani tidur, memeluk anak, dan lainnya. Aktivitas tersebut harus dilakukan dengan perasaan tenang, sehingga batita juga merasakan kenyamanan. Jangan melakukannya sambil bekerja atau bermain gadget karena anak sangat peka dengan kondisi orangtua. Jika rasa aman dan nyaman sudah terpenuhi, kita dapat mulai membujuk anak membersihkan guling bututnya.

“Lihat selimutnya sudah kotor, Dek. Ini banyak kumannya. Kita cuci dulu, ya, supaya Adek nggak kena penyakit. Nih, Adek bisa lihat selimutnya di dalam mesin cuci. Setelah dicuci, masih basah. Jadi, kita tunggu kering dulu, ya. Lihat, tuh selimutnya di jemuran…” Si batita juga dapat diajarkan bahwa selimut atau guling adalah perlengkapan tidur, jadi hanya dapatdigunakan di tempat tidur. Ajaklah ia melihat orangorang di sekitarnya, tidak ada yang membawa-bawa guling saat bermain.

Menurut Gia, jika diperlukan kita dapat menjanjikan hadiah jika batita mau melepaskan diri dari benda butut kesayangannya. Cara ini bisa dilakukan bertahap. Contoh, jika guling atau selimut tersebut hanya dibawa saat tidur, tidak saat bermain atau jalan-jalan keluar, maka si batita akan mendapat “hadiah” pergi berenang, umpamanya.

Boneka Butut Masih Jadi Kesayangan

Ke mana-mana boneka bututnya selalu ikut. Tidur pun tak lelap tanpa kehadirannya. Pada anak lain, benda kesayangan ini bisa saja berupa selimut atau guling yang sama-sama butut. Mungkin Mama Papa penasaran, bagaimana memisahkan si kecil dari benda kesayangannya yang sudah tak layak pakai. Sebenarnya memiliki kelekatan dengan benda tertentu sah-sah saja.

“ rekomendasi tempat kursus bahasa Jerman di Jakarta terbaik “ ~ sat-jakarta.com ~

Orang dewasa pun kerap membutuhkan sesuatu untuk dipegang dalam kondisi tertentu, seperti menggenggam tisu saat menunggu giliran presentasi, atau remaja perempuan yang tidur ditemani boneka beruang di sudut ranjang. Jika si kecil masih dapat diberi pengertian, misalnya jangan membawa guling kala bertamu, atau selimut harus dicuci setiap minggu, kelekatan ini bukanlah masalah.

Menurut psikolog Riselligia Caninsti, masalah baru timbul jika kelekatan ini kadarnya berlebihan, sampai-sampai si batita tak mau berpisah dari benda kesayangannya itu barang semenit pun. Mau berkegiatan apa pun, benda tersebut harus selalu ada. Kita jadi tak sempat membersihkan benda itu secara rutin. Padahal, yang namanya benda dibawa ke mana-mana, pastilah kotor. Jika kita meminta benda kesayangannya harus dicuci, si kecil menampilkan respons negatif. Bisa marah, menangis, menjerit-jerit, atau menunjukkan kegelisahan yangdemikian hebat sehingga tidak dapat beraktivitas seperti biasanya. Kalau sudah begini, kita perlu waspada.

Butuhkan Rasa Aman

Secara psikologis, salah satu kebutuhan mendasar bagi batita adalah kasih sayang dan rasa aman, yang umumnya diperoleh dari orangorang terdekatnya. Dalam kasus guling atau boneka butut, para ahli sepakat kelekatan yang berlebihan ini merupakan indikasi kurangnya rasa aman dan nyaman pada anak.

“Di saat anak tidak mendapatkan rasa aman dan nyaman dari orang-orang di lingkungannya, ia akan berupaya mencari pengganti pada objek lain, salah satunya adalah guling atau boneka,” papar psikolog yang akrab dipanggil Gia ini. Kenyamanan yang dirasakan anak saat memeluk guling atau boneka cenderung ingin dirasakan kembali, sehingga perilaku ini terus berulang dan menjadi kebiasaan. Terkadang kita baru menyadari kebiasaan ini saat melihat guling atau boneka tersebut sudah dalam kondisi butut karena sering dibawa si batita ke mana pun.

Berganti-Ganti Pengasuh

Ibu mayke yang baik, karena saya masih kuliah, begitu juga suami yang bekerja setiap hari, maka yang mengurus si kecil (19 bulan) adalah ibu dan mertua. Bergantian saja karena kebetulan kami semua satu kompleks. Bu, apakah dengan berganti-ganti pengasuh akan memengaruhi sifat dan sikap anak kelak?

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Mohon pencerahan ibu mayke. Terima kasih. Tri ratna – jogyakarta Idealnya, ketika masa bayi, anak diasuh oleh pengasuh yang ajek agar ia mendapatkan penanganan secara konsisten dari orang yang sama. Dalam kasus Mbak Tri Ratna, ber arti ada 3 pengasuh utama, yaitu Anda se bagai ibunya dan kedua neneknya. Betapa pentingnya pengasuhan oleh orang yang ajek dilatarbelakangi oleh beberapa alasan berikut ini: Usia sekitar 0-12 bulan, merupakan fase yang pen ting untuk pembentukan basic trust versus mistrust.

Ada orang yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan biologis seper ti haus, lapar, menggantikan popok ketika buang air kecil, buang air besar; ada yang meninabobokkan ketika ia mengantuk, memeluk dan menenangkan ketika ia sakit, dll. Pada usia sekitar 2-3 tahun anak memasuki tahap otonomi versus rasa malu dan ragu. Apabila basic trust terbentuk dengan baik, berbarengan dengan berkembangnya kemampuan anak untuk berjalan, berbicara, buang air di toilet; maka ketergantungan anak pada pengasuhnya secara fi sik dan psikologis makin berkurang.

Hal ini membuka peluang bagi perkembangan kepribadian anak, menjadi anak yang punya harga diri dan tidak mudah cemas. Sesuai dengan pertanyaan Anda, bagaimana bila pengasuhan dilakukan oleh kedua nenek? Hasilnya akan sangat bergantung bagaimana mereka memperlakukan si anak sesuai fase yang saya jelaskan di atas. Selain itu, diperlukan kekompakan antara Anda, dan kedua nenek dalam menerapkan aturan dalam kehidupan anak sehari-hari.

Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, kapan dia makan, tidur, mandi, bermain. Perlakuan yang ajek dari para pengasuh dibutuhkan agar anak tidak menjadi bingung untuk mengikuti aturan mana yang benar. Apabila aturannya terlampau bertentangan, sulit untuk mengembangkan kemampuan regu lasi diri pada anak dan anak bertingkah semaunya saja. Sekian dulu penjelasan dari saya.

Sumber : https://eduvita.org/

Sering-seringlah Ngobrol Dengan Janin

Mengajak ngobrol janin dapat meningkatkan peluangnya untuk memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik kelak.  Kapan bayi mulai belajar berbahasa? Ternyata, bukan sejak ia dilahirkan, lo, Ma. Si kecil mulai mengenal katakata dan aneka bahasa sejak ia masih berada di dalam kandungan. Hal itu terkait dengan proses pertumbuhan dan perkembangan otaknya yang memang dimulai sejak awal kehamilan.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Memasuki trimester 3, perkembang an otak janin berlangsung lebih pesat dibandingkan sebelumnya. Menurut Dr. Verne Caviness, ahli neurologi anak dari Harvard-Massachusetts General Hospital , berat otak bayi bertambah hingga tiga kali lipat pada 13 minggu terakhir masa kehamilan. Di akhir tri mester 2, berat otak bayi berkisar 99 g. Saat ia siap dilahirkan, di usia kehamilan 38-40 minggu, umumnya berat otak bayi mencapai 300 g. Stimulasi yang Mama berikan di trimester 3, baik melalui asupan nutrisi maupun yang berasal dari lingkungan, turut memengaruhi kualitas perkembangan otak bayi.

Rangsangan dari lingkungan akan mendorong terbentuknya sinapsis (celah yang menyambungkan neuron satu dengan yang lain). Semakin banyak rangsangan diberikan, semakin banyak pula sinapsis yang terbentuk. Akibatnya, jumlah sel neuron yang bertahan pun bertambah banyak dan tingkat apotosis atau kematian sel dapat berkurang. Janin akan lebih cepat memproses informasi, menyelesaikan masalah atau menciptakan sesuatu yang baru, apabila jumlah sel otaknya semakin banyak, rasio sel glia atau sel neuron semakin tinggi, dan kualitas sinapsis di otaknya semakin baik.

Yang tak kalah penting juga untuk diketahui, proses tersebut ternyata tidak berhenti di fase bayi, melainkan terus berlanjut hingga masa dewasa. Pada 10 minggu terakhir usia kehamilan, janin secara aktif mendengarkan suara-suara mamanya. Setelah lahir, bayi pun mampu mengenali dan membedakan suara mamanya dengan suara lain.

Tanda-Tanda Persalinan Prematur

Segera hubungi dokter apabila mamil sering mengalami nyeri pada pinggang belakang, padahal waktunya masih jauh dari perkiraan kelahiran normal. Begitu juga apabila mulai mengalami kontraksi setiap 10 menit atau lebih, disertai rasa kram pada perut bagian bawah yang serupa dengan kram saat menstruasi. Tanda-tanda ini juga sering disertai dengan bertambahnya tekanan serta keluarnya cairan dari vagina dalam jumlah banyak, apalagi bila disertai dengan perdarahan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Ikut Lomba (Bisa) Beri Pengalaman Berharga Bag3

Konsep Diri Dan Kepercayaan Diri.

Inilah manfaat mengikuti lomba yang lainnya. yakni anak jadi memiliki kepercayaan diri. Sebab penerimaan dan pengelolaan emosi yang sehat, baik emosi negatif maupun positif, akan membantu anak-anak membentuk konsep diri yang sehat. Penilaian konsep diri berkaitan dengan kepercayaan diri.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

Sesuaikan Dengan Kondisi Anak

Kesimpulannya, kontes dapat menjadi media yang cocok untuk membantu perkembangan sosio emosional anak jika dijalani dengan tujuan yang baik. Tujuan yang baik adalah tujuan yang mengedepankan kepentingan anak, bukan kepentingan orangtua, seperti misalnya lomba demi kebanggan si mama atau si papa jika nanti anaknya menang. Pada akhirnya keputusan ikut lomba atau tidak lomba merupakan keputusan yang tidak bisa digeneralisasi.

Hal ini harus disesuaikan dengan kondisi anak. Kalau memang anak suka dan ingin, lalu ada hal positif yang bisa diambil si kecil, kenapa tidak. Lalu seandainya si kecil tidak ingin ikut lomba setelah pernah mencoba, juga tidak perlu dipaksakan. Toh, semua hal positif yang didapat dari ikut lomba dapat juga dicapai melalui berbagai hal lain. Contoh, untuk membangun kepercayaan diri, hargai setiap pencapaian anak dan pilihannya, umpama, ketika si batita berusaha menentukan pakaian yang ingin dikenakannya atau prasekolah bisa mengikat tali sepatunya sendiri, atau ketika anak-anak berusaha menen tukan pakaian apa yang akan ia beli.

Jadi pertanyaan seperti “kapan si kecil siap untuk ikut kontes-kontesan?” sebaiknya kita kembalikan pada keputusan si anak. Usia prasekolah merupakan usia dimana anak sudah dapat menentukan apa yang dia mau. Pakar perkembangan anak, Erik Erikson, mengatakan bahwa pe rasaan otonomi atau berusaha memutuskan sesuatu sendiri mulai berkembang ketika anak ber usia 2 tahun. Dengan menghargai pilihan anak dan tidak memaksakan kehendaknya, orangtua akan berkontribusi terhadap pembentukan rasa otonomi yang sehat di kemudian hari.

Menjadi Gasing “Si kecilku walau tubuhnya mungil, namun saat tidur, super duper makan tempat. Pernah suatu malam aku bergeser posisi sampai beberapa kali karena dia tidurnya berputar 360 derajat. Dari kepala pada bantal, melintang, kaki ke arah bantal, sampai kepala menuju bantal lagi. Pernah dia sampai terjatuh dari ranjang saat tidur malam, padahal sudah dikelilingi bantal. Sepertinya dia sedang mimpi menjadi gasing kali ya, he he he….”

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Menjaga Kesehatan Anak Dalam Bencana Asap Bag2

? Gunakan pelembap udara (humidifier) atau bernapas lewat kain basah untuk menjaga kelembapan mukosa napas anak. ? Kurangi aktivitas di luar rumah. Bila keluar menggunakan mobil, tutup jendela dan ventilasi mobil, pasang AC mobil pada mode re-circulate.

Baca juga : tes toefl Jakarta

? Populasi berisiko tinggi harus segera mencari tempat dengan udara yang bersih, misalnya di rumah, rumah kerabat, atau tempat umum yang berudara lebih bersih. ? Penutupan sekolah dan tempat aktivitas perlu dipertimbangkan jika kualitas udara sangat buruk. Namun, pada kondisi tertentu, sekolah justru dapat menjadi tempat atau ruangan yang aman untuk anak, serta tempat pemantauan aktivitas anak.

¦ Abu Pembakaran Abu yang terkumpul akibat pembakaran dapat menyebabkan iritasi kulit dan saluran napas. Lakukan langkah-langkah berikut: ? Melarang anak-anak bermain dekat asap. ? Gunakan sarung tangan, baju le ngan panjang, dan celana panjang. ? Cuci buah dan sayur segar sebelum dimakan. ? Jangan membuang abu di sa luran pembu angan air, karena akan menyebabkan sumbatan. Sebaiknya abu dibuang di tempat sampah.

¦ Penggunaan Masker ? Masker cat/debu/bedah kurang efektif dalam hal mencegah terhirupnya atau inhalasi partikel halus di udara bebas.

? Masker yang menyaring hingga 95% partikel berukuran >0.3 um (N95) hanya efektif apabila dipakai dengan tepat pada wajah. Tersedia pula N99 dan N100, dalam bentuk full face atau half face dengan filter HEPA, namun tidak nyaman saat dipakai. ? Masker berukuran lebih kecil dari standar bisa tampak sesuai dipakai untuk anak, namun produsen masker tidak menyarankannya untuk anak. Alasannya, masker N95 yang saat ini tersedia belum dirancang oleh produsen untuk digunakan pada anak-anak.

Meskipun beberapa jenis masker N95 sedang ditawarkan untuk dijual bagi anak-anak, namun klaim mereka, efektivitas belum diverifi kasi oleh pihak berwenang, seperti Food and Drug Administration (US FDA). Solusinya, yang paling efektif adalah mengurangi pajanan kabut asap dari anak dengan menghindari paparan asap dan sebisa mungkin membawa anak ke tempat yang berudara lebih bersih. Bila terpaksa harus melakukan aktivitas di luar rumah, tetap gunakan masker bedah atau masker jenis apa pun untuk menghindari paparan asap.

Menjaga Kesehatan Anak Dalam Bencana Asap

Bencana kabut asap yang merambah beberapa daerah di Indonesia dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Seluruh anak (usia 0—18 tahun) termasuk populasi berisiko karena paru-parunya masih dalam tahap perkembangan sehingga saluran napas anak lebih sempit dari orang dewasa. Selain itu, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dengan melakukan aktivitas berat, seperti berolahraga.

Baca juga : kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Anak-anak juga menghirup lebih banyak udara per kg berat badan dibanding orang dewasa. Risiko ini akan menjadi lebih tinggi pada anak-anak yang memiliki penyakit kronik sebelumnya, seperti: asma, penyakit jantung, penyakit paru, gangguan imunitas, dan malnutrisi. Adapun pengaruh asap yang paling umum pada anak, yaitu: iritasi mata dan saluran pernapasan, penurunan fungsi paru, serta perburukan penyakit paru dan jantung yang sudah ada.

Menghirup asap dapat menyebabkan anak menderita sesak napas, mengi, batuk, rasa panas atau terbakar pada saluran napas dan mata, nyeri dada, serta pusing dan berkunang-kunang. Kondisi bencana asap juga dapat menimbulkan stres dan kecemasan pada anak yang bermanifestasi sebagai gelisah, mengeluh sakit, mimpi buruk, regresi, perilaku sulit/tidak kooperatif, ketakutan, dan lainnya. Karena itulah, orangtua perlu lebih memberi perhatian, membantu ekspresi anak, misalnya, melalui musik/seni/membuat buku harian, memberi pelukan, serta lebih sabar dalam menghadapi tingkah laku anak yang tidak biasa.

Rekomendasi Idai

Menanggapi permasalahan bencana kabut asap di berbagai wilayah Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan beberapa rekomendasi untuk menjaga kesehatan anak dari bencana kabut asap.

¦ Ruangan Bagi Anak ? Pajanan asap terhadap saluran napas anak dapat dikurangi dengan cara tetap berada di dalam ruangan yang jendela dan pintunya tertutup. ? Bila memungkinkan, air conditioner (AC) dihidupkan dalam mode “re-circulate” dengan mengganti filter secara teratur. ? Pada periode berkurangnya kepekatan asap, buka ventilasi rumah dan bersihkan rumah dari partikel debu yang sudah sempat menumpuk di dalam rumah. ? Hindari aktivitas dalam rumah yang dapat menambah kontaminasi udara, seperti: memasak dengan gas/kompor propane, merokok, menyedot debu (jika tidak punya penyedot HEPA filter/sistem sedot terpusat), dan membakar kayu/furnace.

Sumber : pascal-edu.com