Category Archives: Parenting

Muntah Hijau Pada Bayi, Berbahayakah?

Putri, seorang bayi perempuan, lahir cukup bulan dengan cara spontan dan langsung menangis. Beberapa saat setelah lahir, Putri mulai mengeluarkan cairan hijau dari mulutnya, baik sebelum diberikan ASI maupun setelah diberikan ASI. Kondisi tersebut diikuti dengan perut yang semakin membesar dan kulit yang semakin berwarna kuning, walau mekonium (tinja pertama) tetap keluar.

Baca juga : kerja di Jerman

Dari bidan, Putri kemudian dirujuk ke dokter spesialis. Saat pertama kali datang, Putri dinyatakan terkena “sepsis” atau infeksi berat sehingga perlu dirawat. Selama perawatan, ternyata kondisi Putri tidak kunjung membaik, muntah hijau masih saja berlangsung dan perutnya semakin membuncit. Apa yang terjadi pada Putri? SUMBATAN DI PENCERNAAN Pada bayi baru lahir yang memuntahkan cairan berwarna hijau, sekitar 80% mengalami obstruksi atau sumbatan pada saluran pencernaan bagian atasnya (setinggi usus 12 jari). Pada kondisi ini, hal paling berbahaya yang bisa terjadi adalah dehidrasi (karena cairan tubuh keluar terus-menerus) dan kemungkinan aspirasi (tersedak karena cairan lambung masuk ke dalam saluran pernapasan).

Karena itulah bayi perlu segera dibawa ke rumah sakit atau klinik yang memiliki tempat perawatan intensif (NICU= Neonatal Intensive Care Unit). Risiko lain yang dialami adalah terjadinya ketidakseimbangan kadar elektrolit pada tubuh bayi. Jika tidak segera mendapatkan penanganan serius, ketidakseimbangan elektrolit dapat menyebabkan gejala-gejala yang lebih berat, seperti kejang mendadak sampai henti jantung. Sumbatan pada saluran pencernaan bagian atas ini sebenarnya terjadi saat masa-masa kehamilan awal.

Penyebabnya masih belum banyak diketahui, tetapi banyak ahli menyatakan karena kegagalan terbentuknya saluran usus 12 jari (revakuolisasi duodenum). Biasanya, jika pemeriksaan kehamilan (an te natal) dilakukan dengan rutin dan teratur, disertai pe meriksaan USG di mingguminggu tertentu, kelainan ini dapat segera diketahui. Satu-satunya cara pengobatan, jika memang terbukti ada sum batan (obstruksi) pada saluran pen cer naan bagian atas, adalah de ngan operasi. Setelah bayi lahir, sumbatan dapat langsung ditangani secara kom prehensif, baik oleh dokter anak dan dokter bedah anaknya.

Tetapi operasi ini pun tidaklah mudah, karena memerlukan kecermatan dan kerja sama antarbagian: bagian anak, bedah anak, dan anestesi. Pada bayi baru lahir, tindakan operasi sekecil apa pun memiliki risiko sangat besar, dari ancaman hipotermi (penurunan suhu tubuh), kehilangan cairan tubuh dan darah, serta pengaruh obat bius selama operasi. Tetapi, dengan penanganan (sejak sebelum operasi, masa operasi, dan setelah operasi) yang intensif, harapan bahwa kondisi bayi akan membaik semakin tinggi.

Sumber : https://maxfieldreview.com/

Pendiri V8 Futsal Academy Bag2

Sayangnya, hingga tahun ini Indonesia belum kembali lagi meraih juara AFF. Veve bertekad mengembalikan lagi kejayaan futsal Indonesia seperti tahun 2010 saat ia menjadi kapten tim nasional. “Bibit-bibit baru harus terus disemai,” tegasnya. Maka, pada 2011, Veve mendirikan sekolah futsal yang diberi nama V8 Futsal Academy.

Baca juga : Kerja di Jerman

“Saya mendirikannya setelah berhenti dari tim nasional futsal Indonesia,” jelasnya. Awalnya, ia hanya menerima murid usia 10 tahun ke atas, tetapi seiring waktu antusiasme anak usia 7–10 sangat besar. “Waktu itu tercatat ada 30 anak usia tersebut yang mendaftar,” kata Veve. Akhirnya, ia memutuskan untuk membuka kelas anak usia 7–10 tahun supaya animo yang sangat besar ini tidak disia-siakan. “Anak-anak memiliki keunikan tersendiri. Kadang mereka suka semaunya meski sudah diinstruksikan pelatih,” cerita Veve. Karena itu, ia harus melakukan pendekatan secara halus dan pelan-pelan supaya mereka tetap mau berlatih, berbeda dengan orang dewasa yang sudah bisa dilatih keras dan tegas untuk memotivasi semangat berlatih dan bertanding.

Beasiswa bagi yang berbakat dan tak mampu Bagi Veve, dalam mengelola sekolah futsal ia tidak boleh melulu berpikir komersil. V8 Futsal Academy, alhasil menurutnya lebih banyak melakukan misi sosial. “Ada pemain bagus tapi tidak punya biaya, akhirnya saya kasih free, dapat beasiswa.,” ujarnya. Bahkan, aku Veve, saat ini ada lebih banyak siswa yang diberi beasiswa dibandingkan yang membayar. Untungnya, SPECS, perusahaan tempatnya bekerja mau menyalurkan dana CSR-nya kepada V8.

“Mereka diberikan sepatu, apparel, jersey, dan bola, sebagai bagian dari program CSR perusahaan tersebut,” katanya. Kendala lain, lapangan tempat berlatih pun harus pindah-pindah karena Veve tak memiliki lapangan sendiri. Hal inilah yang membuat beberapa pemainnya keluar masuk karena ketika lapangan pindah, jarak rumah mereka dengan lapangan terlalu jauh. Meski demikian, semangat Veve tidak pupus mengingat ia sudah begitu cinta dengan futsal.

Ia pun ingin sekali memberikan pelatihan yang tepat untuk mengembangkan bakat anak-anak bermain futsal. “Saya ingin memberikan kegiatan positif buat mereka, daripada mereka tawuran,” tandasnya. Ketika melihat ada anak asuhnya yang berbakat besar, Veve tak tinggal diam. “Saya, kan, mantan pemain futsal nasional.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Saatnya Merancang Jenis Kelamin Bayi Bag3

Selama waktu berjalan menuju tiga bulan, gunakan pengaman atau kondom setiap kali berhubungan intim. Setelah tiga bulan, tinggalkan saja pengamannya. Jika dilakukan rutin selama tiga bulan tersebut, kemungkinan untuk mendapatkan bayi dengan jenis kelamin yang Mama Papa inginkan akan lebih besar persentasenya.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Namun, kembali lagi, ini hanya salah satu upaya, bisa berhasil, tetapi bisa saja gagal. Bagaimanapun, hak prerogatifnya tetap berada pada Sang Pencipta. Bila ternyata anak yang lahir memiliki jenis kelamin yang tak sesuai dengan keinginan, tak perlu kecil hati. Yakinlah, apa pun jenis kelamin si anak, baik lakilaki maupun perempuan, itulah yang terbaik yang telah Tuhan berikan kepada Mama Papa. Dengan begitu, kita tetap ikhlas dan bahagia menerimanya. Bila ingin punya anak laki-laki, Mama dianjurkan mengonsumsi makanan yang kaya akan sodium dan potasium. Sebaliknya, bila ingin anak perempuan, konsumsilah makanan tinggi kalsium dan magnesium, tetapi rendah garam.

Tidak Sulit Temukan Ukuran Besar ”Pengalaman saya mencari pakaian dalam saat hamil memang agak sulit, karena ukuran bra yang semakin besar. Tapi kondisi ini masih bisa diatasi, karena sekarang sudah tersedia berbagai macam produk buat bumil. Bangganya menjadi ibu hamil dan mendapatkan 2 putra dan putri yang alhamdulilah sehat-sehat.” Eneng Eti Rohaeti.

Pinjam Punya Suami ”Perut yang semakin besar memang sedikit menyulitkan dalam memilih pakaian dalam. Yang sebelumnya ada, sudah tidak muat lagi. Tapi sekarang aku enggak khawatir, karena sudah ada celana dalam khusus ibu hamil yang banyak dijual di pasaran. Untuk bra, aku pilih ukuran yang lebih besar daripada yang sebelumnya kupakai.” Risanty Raini (35 Week).

Tidak Suka Pakaian Dalam Ketat “Masa kehamilan merupakan masa perubahan yang terjadi pada tubuh ibu. Rasa nyaman tentu menjadi hal utama yang dipikirkan saat membeli baju dan pakaian dalam. Sebagai muslimah, saya lebih memilih mengenakan gamis selama hamil. Terlebih lagi gamis yang berbahan jersey, memiliki tekstur melar dan ringan saat dikenakan. Pakaian dalam yang pas dan tidak ngetat juga penting diperhatikan ketika membeli.” Dawimah (33 Minggu).

Sumber : https://pascal-edu.com/

Tip dan Trik Usir Stres Bag2

Sampaikan apa yang membuat Mama tak bisa lagi melakukan tanggung jawab tersebut dan diskusikan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. 5. Bersyukur atas kehamilan Mama. Tidak semua perempuan bisa hamil dan memiliki anak. Berbahagialah karena dapat mengalaminya. Hanya Mama yang bahagia yang bisa membahagiakan anaknya, oleh karena itu Madilah Mama yang berbahagia.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Agar Kakak Tak Melulu Minta Gendong

Kecuali dalam kondisi darurat, menggendong batita atau mengangkat beban berat sebenarnya tak dianjurkan bagi para mamil. Berikut yang bisa Mama lakukan untuk membuat si kakak yang masih batita agar tak melulu minta gendong. Alihkan perhatiannya dengan mengajaknya duduk sebentar sambil bercerita tentang sesuatu yang bisa menarik perhatiannya atau membacakan buku cerita di pangkuan Mama.

Ini akan menjadi awal yang baik untuk mengajarkannya konsep “duduk bila lelah” dan bukannya digendong. Bila Mama mengajak batita pergi suatu tempat dalam waktu lama, seperti pusat belanja atau wahana bermain, sebaiknya membawa kereta dorong, setidaknya ini bisa mengganti “gendongan” saat batita merasa lelah atau mengantuk. Hindari penolakan dengan sikap atau kata-kata negatiI. Misalnya, menolak gendong dengan cara mengomeli anak, apalagi dengan kekerasan fisik, seperti memukul.

Selain berdampak buruk bagi perkembangan mental anak, anak jadi terbiasa dengan sikap negatiI dan akhirnya kebal. Selain itu, hindari pula kalimat yang merendahkan anak, seperti, “Kok, masih minta gendong? Kalah dong sama adik bayi, payah, ah!” Bila terlalu sering diucapkan, ditakutkan ia akan tumbuh menjadi anak yang minder atau kurang percaya diri. Beri pengertian secara bertahap kalau Mama tak bisa lagi menggendong terlalu lama karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan, seperti, “Kalau sekarang Mama gendong Kakak, Mama bisa sakit.

Jadi, Kakak digendong Papa dulu, ya.” Hindari menjadikan “adik” dalam kandungan sebagai alasan, seperti, “Mama sudah enggak bisa gendong Kakak lagi karena ada adik bayi di perut.” Pasalnya, itu bisa saja menimbulkan kecemburuan yang akhirnya membuat si kakak merasa tersaingi dengan kehadiran sang adik. Hindari bepergian hanya berdua dengan si batita agar ada orang lain yang bisa bantu menggendong.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Begitu Lahir Perlu Asupan Vitamin K Bag4

Di beberapa negara Asia angka kesakitan bayi karena PDVK ber kisar antara 1 : 1.200 sampai 1 : 1.400 Kelahiran Hidup. Angka tersebut dapat turun menjadi 1 : 10.000 de ngan pemberian vitamin K pada bayi baru lahir.

Bila Terlambat Diberi Vitamin K

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Pada bayi yang terlambat mendapat vitamin K dan mengalami perdarahan akibat kekurangan vitamin K, dokter akan memberikan pengobatan berupa suntik an vitamin K dan transfusi darah. Pemberian vitamin K tidak perlu dilakukan ulangan, karena semakin bertambah umur bayi, semakin baik kemampuan tu buhnya untuk menghasilkan vitamin K dan semakin bervariasi asupan makanan yang didapatkan.

“Bila lupa memberikan suntikan vitamin K, begitu ingat langsung saja membawa ke dokter untuk men dapatkan suntikan demi menjaga kondisi bayi. Meski usia bayi sudah lebih dari dua ming gu dan mama baru ingat saat itu, suntikan vitamin K tetap harus diberi kan. Lebih baik diberikan daripada tidak,” ujar Desiana.

Tentang Vitamin K

Vitamin K merupakan vitamin larut dalam lemak yang memiliki peranan penting dalam mengaktifkan zat zat yang berperan dalam pembekuan darah, di anta ranya zat yang dikenal sebagai protrombin. Vitamin K dapat diproduksi oleh bakteri normal dalam saluran cerna, akan tetapi pada bayi baru la hir kondisi saluran cerna masih dalam keadaan steril (tidak ada bakteri normal usus) sehingga vitamin K tidak dapat diproduksi.

Fungsi organ hati sebagai tempat metabolisme vitamin K juga belum dapat ber fungsi secara matang terutama pada bayi kecil. Ada tiga bentuk vitamin K yang diketahui yaitu: ? Vitamin K1 (phytomenadione), terdapat pada sa yuran hijau. ? Vitamin K2 (menaquinone), dihasilkan oleh bakteri normal usus (Bacteriodes fragilis). ? Vitamin K3 (menadione), merupakan vitamin K sintetik.

Vitamin K yang diberikan pada bayi baru lahir ada lah vitamin K1. Pemberiannya pada saat bayi baru lahir atau sampai usia 2 minggu. Sekali lagi. hal ini terkait de ngan risiko terjadinya perdarahan yang cukup tinggi pada bayi usia 1–2 minggu. Faktor risiko akan menurun menjelang usia 6 bulan, setelah bayi mulai dapat memproduksi vitamin K sendiri.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Boneka Butut Masih Jadi Kesayangan Bag2

Jika sudah sampai pada kondisi ini, tentu saja upaya untuk mengubah kebiasaan anak memerlukan proses, karena cukup sulit untuk langsung memisahkan si kecil dari kebiasaannya berinteraksi dengan benda kesayangannya tersebut. Proses memisahkan yang tidak bijak dapat berdampak besar dalam perkembangan anak.

“ Program kerja ke luar negeri gratis dengan ausbildung di Jerman “ ~ sat-jakarta ~

Diantaranya, menurut Gia, “Anak tidak mau lepas dari orangtuanya, bahkan saat sudah memasuki usia sekolah ia ingin selalu ditunggui oleh orangtua. Ia juga takut dan enggan berinteraksi dengan orang lain, bahkan tidak mau melakukan eksplorasi, karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.”

Berpisah Dengan Si Butut

Lalu harus bagaimana? Memaksa anak untuk berpisah dengan guling bututnya hanya akan memperpanjang masalah. Gia memberikan beberapa cara untuk melepaskan ketergantungan anak kepada si butut. Pertama berikan anak rasa aman dan nyaman. Caranya, bisa dengan menemani anak saat melakukan aktivitas kesehariannya.

Misal, dengan menyusui, menyuapi anak, mengganti popok, memandikan, bermain, menemani tidur, memeluk anak, dan lainnya. Aktivitas tersebut harus dilakukan dengan perasaan tenang, sehingga batita juga merasakan kenyamanan. Jangan melakukannya sambil bekerja atau bermain gadget karena anak sangat peka dengan kondisi orangtua. Jika rasa aman dan nyaman sudah terpenuhi, kita dapat mulai membujuk anak membersihkan guling bututnya.

“Lihat selimutnya sudah kotor, Dek. Ini banyak kumannya. Kita cuci dulu, ya, supaya Adek nggak kena penyakit. Nih, Adek bisa lihat selimutnya di dalam mesin cuci. Setelah dicuci, masih basah. Jadi, kita tunggu kering dulu, ya. Lihat, tuh selimutnya di jemuran…” Si batita juga dapat diajarkan bahwa selimut atau guling adalah perlengkapan tidur, jadi hanya dapatdigunakan di tempat tidur. Ajaklah ia melihat orangorang di sekitarnya, tidak ada yang membawa-bawa guling saat bermain.

Menurut Gia, jika diperlukan kita dapat menjanjikan hadiah jika batita mau melepaskan diri dari benda butut kesayangannya. Cara ini bisa dilakukan bertahap. Contoh, jika guling atau selimut tersebut hanya dibawa saat tidur, tidak saat bermain atau jalan-jalan keluar, maka si batita akan mendapat “hadiah” pergi berenang, umpamanya.

Boneka Butut Masih Jadi Kesayangan

Ke mana-mana boneka bututnya selalu ikut. Tidur pun tak lelap tanpa kehadirannya. Pada anak lain, benda kesayangan ini bisa saja berupa selimut atau guling yang sama-sama butut. Mungkin Mama Papa penasaran, bagaimana memisahkan si kecil dari benda kesayangannya yang sudah tak layak pakai. Sebenarnya memiliki kelekatan dengan benda tertentu sah-sah saja.

“ rekomendasi tempat kursus bahasa Jerman di Jakarta terbaik “ ~ sat-jakarta.com ~

Orang dewasa pun kerap membutuhkan sesuatu untuk dipegang dalam kondisi tertentu, seperti menggenggam tisu saat menunggu giliran presentasi, atau remaja perempuan yang tidur ditemani boneka beruang di sudut ranjang. Jika si kecil masih dapat diberi pengertian, misalnya jangan membawa guling kala bertamu, atau selimut harus dicuci setiap minggu, kelekatan ini bukanlah masalah.

Menurut psikolog Riselligia Caninsti, masalah baru timbul jika kelekatan ini kadarnya berlebihan, sampai-sampai si batita tak mau berpisah dari benda kesayangannya itu barang semenit pun. Mau berkegiatan apa pun, benda tersebut harus selalu ada. Kita jadi tak sempat membersihkan benda itu secara rutin. Padahal, yang namanya benda dibawa ke mana-mana, pastilah kotor. Jika kita meminta benda kesayangannya harus dicuci, si kecil menampilkan respons negatif. Bisa marah, menangis, menjerit-jerit, atau menunjukkan kegelisahan yangdemikian hebat sehingga tidak dapat beraktivitas seperti biasanya. Kalau sudah begini, kita perlu waspada.

Butuhkan Rasa Aman

Secara psikologis, salah satu kebutuhan mendasar bagi batita adalah kasih sayang dan rasa aman, yang umumnya diperoleh dari orangorang terdekatnya. Dalam kasus guling atau boneka butut, para ahli sepakat kelekatan yang berlebihan ini merupakan indikasi kurangnya rasa aman dan nyaman pada anak.

“Di saat anak tidak mendapatkan rasa aman dan nyaman dari orang-orang di lingkungannya, ia akan berupaya mencari pengganti pada objek lain, salah satunya adalah guling atau boneka,” papar psikolog yang akrab dipanggil Gia ini. Kenyamanan yang dirasakan anak saat memeluk guling atau boneka cenderung ingin dirasakan kembali, sehingga perilaku ini terus berulang dan menjadi kebiasaan. Terkadang kita baru menyadari kebiasaan ini saat melihat guling atau boneka tersebut sudah dalam kondisi butut karena sering dibawa si batita ke mana pun.

Berganti-Ganti Pengasuh

Ibu mayke yang baik, karena saya masih kuliah, begitu juga suami yang bekerja setiap hari, maka yang mengurus si kecil (19 bulan) adalah ibu dan mertua. Bergantian saja karena kebetulan kami semua satu kompleks. Bu, apakah dengan berganti-ganti pengasuh akan memengaruhi sifat dan sikap anak kelak?

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Mohon pencerahan ibu mayke. Terima kasih. Tri ratna – jogyakarta Idealnya, ketika masa bayi, anak diasuh oleh pengasuh yang ajek agar ia mendapatkan penanganan secara konsisten dari orang yang sama. Dalam kasus Mbak Tri Ratna, ber arti ada 3 pengasuh utama, yaitu Anda se bagai ibunya dan kedua neneknya. Betapa pentingnya pengasuhan oleh orang yang ajek dilatarbelakangi oleh beberapa alasan berikut ini: Usia sekitar 0-12 bulan, merupakan fase yang pen ting untuk pembentukan basic trust versus mistrust.

Ada orang yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan biologis seper ti haus, lapar, menggantikan popok ketika buang air kecil, buang air besar; ada yang meninabobokkan ketika ia mengantuk, memeluk dan menenangkan ketika ia sakit, dll. Pada usia sekitar 2-3 tahun anak memasuki tahap otonomi versus rasa malu dan ragu. Apabila basic trust terbentuk dengan baik, berbarengan dengan berkembangnya kemampuan anak untuk berjalan, berbicara, buang air di toilet; maka ketergantungan anak pada pengasuhnya secara fi sik dan psikologis makin berkurang.

Hal ini membuka peluang bagi perkembangan kepribadian anak, menjadi anak yang punya harga diri dan tidak mudah cemas. Sesuai dengan pertanyaan Anda, bagaimana bila pengasuhan dilakukan oleh kedua nenek? Hasilnya akan sangat bergantung bagaimana mereka memperlakukan si anak sesuai fase yang saya jelaskan di atas. Selain itu, diperlukan kekompakan antara Anda, dan kedua nenek dalam menerapkan aturan dalam kehidupan anak sehari-hari.

Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, kapan dia makan, tidur, mandi, bermain. Perlakuan yang ajek dari para pengasuh dibutuhkan agar anak tidak menjadi bingung untuk mengikuti aturan mana yang benar. Apabila aturannya terlampau bertentangan, sulit untuk mengembangkan kemampuan regu lasi diri pada anak dan anak bertingkah semaunya saja. Sekian dulu penjelasan dari saya.

Sumber : https://eduvita.org/

Sering-seringlah Ngobrol Dengan Janin

Mengajak ngobrol janin dapat meningkatkan peluangnya untuk memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik kelak.  Kapan bayi mulai belajar berbahasa? Ternyata, bukan sejak ia dilahirkan, lo, Ma. Si kecil mulai mengenal katakata dan aneka bahasa sejak ia masih berada di dalam kandungan. Hal itu terkait dengan proses pertumbuhan dan perkembangan otaknya yang memang dimulai sejak awal kehamilan.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Memasuki trimester 3, perkembang an otak janin berlangsung lebih pesat dibandingkan sebelumnya. Menurut Dr. Verne Caviness, ahli neurologi anak dari Harvard-Massachusetts General Hospital , berat otak bayi bertambah hingga tiga kali lipat pada 13 minggu terakhir masa kehamilan. Di akhir tri mester 2, berat otak bayi berkisar 99 g. Saat ia siap dilahirkan, di usia kehamilan 38-40 minggu, umumnya berat otak bayi mencapai 300 g. Stimulasi yang Mama berikan di trimester 3, baik melalui asupan nutrisi maupun yang berasal dari lingkungan, turut memengaruhi kualitas perkembangan otak bayi.

Rangsangan dari lingkungan akan mendorong terbentuknya sinapsis (celah yang menyambungkan neuron satu dengan yang lain). Semakin banyak rangsangan diberikan, semakin banyak pula sinapsis yang terbentuk. Akibatnya, jumlah sel neuron yang bertahan pun bertambah banyak dan tingkat apotosis atau kematian sel dapat berkurang. Janin akan lebih cepat memproses informasi, menyelesaikan masalah atau menciptakan sesuatu yang baru, apabila jumlah sel otaknya semakin banyak, rasio sel glia atau sel neuron semakin tinggi, dan kualitas sinapsis di otaknya semakin baik.

Yang tak kalah penting juga untuk diketahui, proses tersebut ternyata tidak berhenti di fase bayi, melainkan terus berlanjut hingga masa dewasa. Pada 10 minggu terakhir usia kehamilan, janin secara aktif mendengarkan suara-suara mamanya. Setelah lahir, bayi pun mampu mengenali dan membedakan suara mamanya dengan suara lain.

Tanda-Tanda Persalinan Prematur

Segera hubungi dokter apabila mamil sering mengalami nyeri pada pinggang belakang, padahal waktunya masih jauh dari perkiraan kelahiran normal. Begitu juga apabila mulai mengalami kontraksi setiap 10 menit atau lebih, disertai rasa kram pada perut bagian bawah yang serupa dengan kram saat menstruasi. Tanda-tanda ini juga sering disertai dengan bertambahnya tekanan serta keluarnya cairan dari vagina dalam jumlah banyak, apalagi bila disertai dengan perdarahan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Ikut Lomba (Bisa) Beri Pengalaman Berharga Bag3

Konsep Diri Dan Kepercayaan Diri.

Inilah manfaat mengikuti lomba yang lainnya. yakni anak jadi memiliki kepercayaan diri. Sebab penerimaan dan pengelolaan emosi yang sehat, baik emosi negatif maupun positif, akan membantu anak-anak membentuk konsep diri yang sehat. Penilaian konsep diri berkaitan dengan kepercayaan diri.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

Sesuaikan Dengan Kondisi Anak

Kesimpulannya, kontes dapat menjadi media yang cocok untuk membantu perkembangan sosio emosional anak jika dijalani dengan tujuan yang baik. Tujuan yang baik adalah tujuan yang mengedepankan kepentingan anak, bukan kepentingan orangtua, seperti misalnya lomba demi kebanggan si mama atau si papa jika nanti anaknya menang. Pada akhirnya keputusan ikut lomba atau tidak lomba merupakan keputusan yang tidak bisa digeneralisasi.

Hal ini harus disesuaikan dengan kondisi anak. Kalau memang anak suka dan ingin, lalu ada hal positif yang bisa diambil si kecil, kenapa tidak. Lalu seandainya si kecil tidak ingin ikut lomba setelah pernah mencoba, juga tidak perlu dipaksakan. Toh, semua hal positif yang didapat dari ikut lomba dapat juga dicapai melalui berbagai hal lain. Contoh, untuk membangun kepercayaan diri, hargai setiap pencapaian anak dan pilihannya, umpama, ketika si batita berusaha menentukan pakaian yang ingin dikenakannya atau prasekolah bisa mengikat tali sepatunya sendiri, atau ketika anak-anak berusaha menen tukan pakaian apa yang akan ia beli.

Jadi pertanyaan seperti “kapan si kecil siap untuk ikut kontes-kontesan?” sebaiknya kita kembalikan pada keputusan si anak. Usia prasekolah merupakan usia dimana anak sudah dapat menentukan apa yang dia mau. Pakar perkembangan anak, Erik Erikson, mengatakan bahwa pe rasaan otonomi atau berusaha memutuskan sesuatu sendiri mulai berkembang ketika anak ber usia 2 tahun. Dengan menghargai pilihan anak dan tidak memaksakan kehendaknya, orangtua akan berkontribusi terhadap pembentukan rasa otonomi yang sehat di kemudian hari.

Menjadi Gasing “Si kecilku walau tubuhnya mungil, namun saat tidur, super duper makan tempat. Pernah suatu malam aku bergeser posisi sampai beberapa kali karena dia tidurnya berputar 360 derajat. Dari kepala pada bantal, melintang, kaki ke arah bantal, sampai kepala menuju bantal lagi. Pernah dia sampai terjatuh dari ranjang saat tidur malam, padahal sudah dikelilingi bantal. Sepertinya dia sedang mimpi menjadi gasing kali ya, he he he….”

Sumber : https://ausbildung.co.id/